Assalamualaikum. Wr. Wb
Akhirnya film yang menghina Islam itu jadi dirilis.
Diantaranya di situs internet liveleak.com. Sebelumnya
banyak pihak yang meminta agar film itu tidak
diedarkan. Tapi atas nama kebebasan berpendapat Geert
Wilders, anggota parlemen Belanda yang membuat film
itu, tetap ngotot mengedarkan film berdurasi 15 menit
itu. Film berjudul Fitna itu pun menuai kecaman dari
berbagai pihak. Negara-negara Muslim seperti Iran,
Bangladesh, Pakistan, dan Yordania langsung bereaksi
keras mengecam film ini. Kecaman yang sama muncul dari
Uni Eropa dan Sekretaris Jendral PBB Ban Ki-Moon.
Menurutnya film Wilders merupakan film jahat.
Tapi pemerintah Belanda mengaku tidak bisa berbuat
banyak melarang film itu. Perdana Menteri Belanda Dr
Jan Peter Balkanende —seperti yang tertulis dalam
surat yang ditujukan kepada Ketua Umum PB NU KH Hasyim
Muzadi— mengatakan Wilders tidak mewakili Belanda.
Dan, masih menurut PM Jan Peter, hukum Belanda tidak
bisa menindak tegas terhadap pemutar film, apabila
aspek yang ditimbulkan dari film itu belum terlihat.
Aparat baru bisa melakukan investigasi apabila sudah
berdampak pada aspek kriminal di tengah masyarakat.
Penghinaan terhadap Islam bukan kali pertama. Wilder
pernah mengatakan Al-Qur’an adalah buku fasis yang
menyebarkan kebencian dan kekerasan. Dia juga
menyerukan agar Al-Qur’an dilarang, sebagaimana
dilarangnya Mein Kampf, buku Hitler. “Muslim yang
tinggal di Belanda harus menyobek setengah dari
Al-Qur’an. Jika Muhammad tinggal di sini (Belanda)
sekarang, aku akan menyuruhnya keluar dari Belanda
dengan belenggu“, hina Wilders.
Beberapa tahun sebelumnya, Ayaan Hirsi Ali, mencari
popularitas dan jabatan politik dengan menghina Islam.
Politisi Belanda kelahiran Somalia ini mengecam Islam
sebagai agama terbelakang dan merendahkan wanita. Dia
juga menuduh Rasulullah Muhammad saw sebagai orang
yang sesat karena menikahi Aisyah ra yang masih
kanak-kanak. Dengan sangat keji, dia menuduh
Rasulullah saw itu pervers (mempunyai kelainan
seksual). Hirsi juga membantu Theo Van Gogh membuat
film yang berjudul Submission. Dalam film itu dia
menuduh Al-Qur’an mendorong kekacauan dan pemerkosaan
terhadap seluruh anggota keluarga. Dalam film itu
terdapat adegan seorang Muslimah yang shalat, tapi
berpakaian tembus pandang dan di tubuhnya tertulis
ayat-ayat Al-Quran.
Nih komentarnya, dari forum yang sama:
Seharusnya kita memprotes keras pembuatan dan
penayangan serta pengedaran film Fitna tersebut. Dan
menuntut agar peredaran film itu dihentikan dan Greet
Wilders dihukum berat. Bila dalam faktanya, pemerintah
Belanda dan negara-negara Eropa tidak melarang
penghinaan terhadap Islam itu dengan dalih kebebasan
berpendapat, menunjukkan mereka telah menerapkan
standard ganda. Di Eropa siapapun yang meragukan atau
mengkritik kebenaran Hollocaust (pembantaian massal)
yang dilakukan oleh Nazi terhadap orang-orang Yahudi
di Eropa akan diseret ke pengadilan sebagai tindakan
kriminal. Bukankah mengkritik Hollocaust juga adalah
bagian dari kebebasan berpendapat? Mengapa untuk
kritik terhadap Hollocaust dilarang, sementara
penghinaan terhadap Islam dibiarkan atas nama
kebebasaan?
Demikian juga di Perancis, pemakaian kerudung dilarang
di sekolah-sekolah umum. Padahal memakai kerudung bagi
umat Islam adalah bagian dari kewajiban beragama.
Pelarangan ini jelas bertentangan dengan hak kebebasan
beragama seorang Muslim. Artinya, sebenarnya
negara-negara Barat mengakui, bahwa tidak ada
kebebasan yang benar-benar bebas, tanpa ada
pembatasan. Terbukti pula bahwa negara mereka
sebenarnya bisa bertindak untuk melarang seperti dalam
kasus Hollocaust. Sikap pemerintah Belanda yang tidak
melarang penghinaan terhadap Islam menunjukan
pemerintah Belanda membiarkan terjadinya kejahatan,
yakni penghinaan terhadap agama.
Standar ganda seperti ini sering sekali terjadi,
terutama pada perkara yang berkaitan dengan Islam dan
umat Islam. Hamas yang berjuang membebaskan negerinya
dari penjajahan Israel disebut teroris. Sementara
tindakan Israel yang menduduki dan membunuh rakyat
sipil di Palestina dengan peralatan tempur canggih dan
bom berkuatan dahsyat disebut aksi membela diri.
Kemudian siapapun yang mengkritik kebijakan Israel ini
akan dituduh anti semit.
Inkonsistensi dan standar ganda yang demikian
mencolok, membuat kita wajib meragukan nilai-nilai
Kapitalisme Barat yang sering diklaim sebagai
peradaban terbaik dunia saat ini. Sungguh sangat
mengerikan kalau kebebasan diartikan sebagai bebas
menghina agama dan keyakinan orang lain. Betapa
bahayanya, jika atas nama demokrasi, kebebasan, perang
melawan terorisme, siapapun boleh melakukan apapun,
termasuk menahan tanpa tuduhan, menyiksa, sampai
membunuh orang lain bahkan juga menyerbu, menduduki
dan menghancurkan negara lain. Ini semua menunjukkan
kegagalan peradaban Barat yang sangat kronis.
Sikap pemerintah Barat terhadap umat Islam sekarang
ini membuat slogan dialog antar peradaban dan saling
menghargai (mutual respect) yang sering dikampanyekan
Barat layak dipertanyakan. Di satu sisi, Barat
menyerukan dialog peradaban, tapi pada saat yang sama
Barat membiarkan penghinaan terhadap peradaban lain
seperti penghinaan terhadap Rasulullah Muhammad saw
dan Al-Qur’an. Mereka berbicara tentang dialog
peradaban, akan tetapi Barat memaksakan peradaban
Barat di negeri-negeri Islam bahkan dengan kekuatan
militer seperti yang kini tengah terjadi di Irak.
Dialog peradaban semacam ini dan dalam kondisi seperti
ini tidak bisa diterima. Sebab antara Peradaban Barat
dan Islam tidak dalam keadaan yang sama posisinya
(equal). Peradaban Barat merasa lebih tinggi dan
dipaksakan untuk mendominasi peradaban lain.
Juga patut dipertanyakan kampanye yang menolak
radikalisme dan mendorong umat Islam menjadi Muslim
yang moderat dan toleran terhadap nilai-nilai Barat
karena di saat yang sama pemerintah Barat justru
membiarkan pemikiran ekstrim dan radikal atas nama
kebebasan, menghina Islam dan kaum Muslim. Tidak hanya
itu. Tindakan radikal juga dilakukan AS dan Israel
terhadap negeri Islam yang telah menimbulkan banyak
korban jiwa. Walhasil, dialog peradaban dan dorongan
agar menjadi Muslim moderat, terkesan dilakukan
sekedar untuk membungkam perlawanan umat Islam
terhadap negara-negara Barat yang menindas umat Islam
dan mendorong umat Islam untuk mau diperlakukan secara
semena-mena oleh mereka.
Kita juga harus menyerukan kepada pemerintah Indonesia
untuk menekan pemerintah Belanda agar menghentikan
peredaran film itu. Serta menyerukan kepada umat Islam
untuk sungguh-sungguh berjuang bagi tegaknya khilafah
Islam. Tanpa khilafah umat menjadi sangat lemah. Ini
bukti ke sekian kali bahwa penghinaan terhadap Islam,
nabi Muhammad dan Al-Qur’an menunjukkan bahwa umat
Islam dewasa ini memang dalam keadaan yang sangat
lemah sehingga gampang diperlakukan secara
semena-mena. Khilafah akan menyatukan umat, dan dengan
persatuan umat, Islam akan menjadi kuat kembali
sehingga mampu menegakkan izzul Islam wal Muslimin,
termasuk melindungi kehormatan ajaran Islam, Al-Quran
dan nabi Muhammad saw yang mulia.
Wassalam wr.wbr.
Dari forum hidayatullah.com: