ReviewReviewReviewReviewReviewIstana keduaFeb 18, '08 2:22 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Asma Nadia
Sebuah Novel yang sangat brilliant. Sangat pintar mempertemukan karakter dari masing - masing tokoh cerita untuk menggugat poligami. Dengan setting serta Alur cerita yang melompat - lompat secara sangat halus sekali, membuat Novel ini mempunyai konflik yang sangat besar, membuat penasaran membacanya sampai diakhir cerita.

Arini bikin gemas.., Prass bikin penasaran, Mei Rose dahsyat dan Tragis....

Tidak ada kepuasaan dalam ending cerita ini bagi saya selain dibuatkan sekuel kedua dan ketiganya ;)

Salute...!!!



helvytr wrote on Feb 22
ReviewReviewReviewReviewReview

Brilliant! Karya terbaik Asma Nadia sampai saat ini! You must read!
aeront wrote on Feb 28
Dear Mbak Asma, selamat ya...,
Saya harus beli nih buku...sudah beredar ya di Gramedia ?
Yakin akan menambah wawasan saya.

----- Original Message ----
From: dewi yulyani
To: pembacaanadia@ yahoogroups. com
Sent: Thursday, February 28, 2008 9:01:13 AM
Subject: Balasan: [pembacaanadia] (Proses Kreatif) Istana kedua - dari wawancara di radio mustika fm

selamat mba yaa..bukunya sudah jadi buku..terbaik versi Islamic book fair....mudah- mudahan pertentangan mengenai poligami bisa sedikit reda dengan kita membaca buku ini amien
Asma Nadia wrote: Teman Mustika, Jumat sore (22/02), Twilight Road kedatangan tamu
istimewa. Ini memang bukan kedatangan pertama penulis ini ke Mustika,
tapi tentu saja ada berita baru yang dia bawa. Oya, sekarang perempuan
ini tengah menggalakkan gerakan perempuan menulis, karena ia ingin
perempuan punya tempat berbagi.

Hm...ternyata Asma kali ini membawa cerita seru untuk Teman Mustika
seputar buku terbarunya yang berjudul Istana Kedua. Ini dia obrolan
hangat Asma Nadia bersama penyiar Mustika, Tasya.

Halo Mba Asma
Oya, buku Istana Kedua katanya menang Islamic Book Fair di Jakarta ya,
Mba?

Iya. Alhamdulillah.

Wah, selamat ya, Mba!

Terimakasih

Sudah mendapat penghargaan dari mana saja?

Ada 3 buku dari Adikarya IKAPI, ada yang dari Mizan, dan Majelis
Sastra Asia Tenggara. Dan yang terakhir buku Istana Kedua ini.

Buku Istana Kedua ini tentang apa siy,Mba?

Ini tentang poligami yang diambil dari sudut pandang perempuan.
Sehingga dengan membaca buku ini, laki-laki jadi mengerti isi hati
perempuan. Biasanya kalau terjadi poligami, pasti yang disalahkan
istrinya. Nah, padahal tidak selamanya seperti itu. Selain itu saya
terusik untuk membuat buku tidak hanya tentang perselingkuhan tapi
juga mengangkat tentang poligami.

Ceritanya fiksi atau non fiksi?

Ceritanya fiksi. Tapi saya kalau nulis, biasanya berangkat dari
realita, bisa cerita dari teman atau buku yang dibaca. Tokohnya
diambil dari sosok yang benar-benar ada. Tapi alurnya memang imajinasi.

Ini buku dikerjain dari kapan, Mba?

Dari 2001. Memang lama. Karena saya harus merancang dan membuat
karakter di buku ini menjadi kuat dan ceritanya menjadi utuh.

Di sini cukup banyak hal yang diangkat, selain poligami, ada juga
perselingkuhan dan SARA. Apa ada tujuan sendiri?

Bagi saya novel kan sebenarnya tidak hanya sebagai penghibur, tapi
juga sebagai media untuk membuka dan menyuarakan ketidakadilan.

Cerita ini pernah dimuat bersambung dalam majalah Ummi, trus gimana
prosesnya bisa dibukukan?

Selama proses pembuatan novel ini, majalah Ummi ternyata butuh cerita
bersambung dan saya diminta untuk mengisi. Akhirnya saya memilih
cerita ini. Dari situ saya mulai meneruskan cerita ini lagi. Tahap
yang paling lama adalah pada saat revisi pada cerita, karena ada
sedikit penyusuain dari cerita bersambung lalu diubah kedalam novel

Sebenarnya apa yang ingin disampaikan lewat novel Istana Kedua?

Saya ingin perempuan yang mengalami nasib seperti tokoh ini, yaitu
dipoligami, jangan down dan jangan menyalahkan diri sendiri.
Sebagaimana kita tidak sempurna, suami pun tidak sempurna. Dan tidak
ada ketidaksempurnaan kita yang pantas dibayar dengan perselingkuhan.
Kita sebagai perempuan juga harus punya kekuatan dan keberanian untuk
bersikap.

Kenapa novel Mba Asma kebanyakan mengenai perempuan?

Saya ingin ada novel tentang perempuan dan diangkat oleh penulis
perempuan juga. Karena menurut saya akan menjadi berbeda kalau
diangkat oleh penulis laki-laki. Memang banyak hal lain yang
sebenarnya bisa diangkat, tapi saya ingin mengangkat ketidakadilan
terkait dengan perempuan. Dalam novel ini, saya juga ingin
menggambarkan tentang istana kedua, dimana perempuan yang menjadi
orang kedua, juga harus tahu tidak hanya baik-baiknya saja, tapi juga
resiko besar yang harus dia hadapi.

Apa kendala selama menulis novel?

Ini kan cerita cinta segitiga dan sebenarnya simple, tapi saya harus
keluar dari alur biasa dan membuat ceritanya tidak biasa. Saya juga
membuat persinggungan di antara tiga tokoh utamanya, supaya
karakternya lebih hidup. Selain itu juga ada kendala waktu dan proses
editing.

Untuk membuat tulisan apa Mba melakukan riset dulu?

Iya. Kebetulan di lingkungan saya juga banyak terjadi poligami. Dan
biasanya kita selalu menyalahkan perempuan kedua. Padahal posisi
perempuan kedua ini juga sulit. Tapi saya memang tidak terlalu
memfokuskan ke sini. Saya mencoba pakai 3 sudut pandang, Arini, Pras
dan perempuan keduanya. Dan di sini pemihakan penulis sebenarnya ada,
cuma pembaca harus jeli melihat itu.

Kalau menulis biasanya dapat Inspirasi dari mana, Mba?

Dari pengalaman pribadi, dan pengalaman orang lain.

Bagaimana menurut Mba Asma tentang poligami?

Saya tidak memungkiri bahwa poligami memang ada di Islam. Hanya saja
monogami lebih tidak beresiko. Saya melihat poligami dengan praktik
yang tidak bijak, lebih kepada akibat. Okelah, istri memahami. Tapi
dia pasti terluka. Dan jangan lupa bahwa ada anak-anak juga. Yang saya
inginkan, kalau memang suami ingin berpoligami, dia juga harus
membangun kesiapan istri yang mau dia poligami.

Sejauh mana emosi Anda terlibat?

Saya juga menempatkan diri pada tokoh yang ada di novel ini seperti
Arini, dan juga menempatkan diri saya pada perempuan kedua. Saya juga
berusaha menempatkan diri dan membawa luka dari perempuan-perempuan
yang curhat dan cerita sama saya. Dan perlu diingat bahwa ini bukan
propaganda antipoligami. Saya menerima kok poligami ada dalam Islam
sebagaimana monogami. Tapi ini adalah propaganda keluarga bahagia.
Mungkin cinta dan uang bisa dibagi. Tapi apakah waktu dengan anak-anak
bisa dibagi? Sudahkah dimaksimalkan? Ya..kita ga tahu waktu kita
sampai kapan dengan anak-anak kita bukan?

Apa ada cerita berkesan terkait dengan novel ini?

Ada yang mengirimkan e-mail ke pada saya, dan bilang kalau dia menjadi
tergugah sehingga ga jadi bercerai setelah membaca tulisan saya. Itu
Subhanallah sekali..

Ada rencana untuk menulis kisah hidup sendiri?

Saya ga tau apa akan jadi menarik atau ga. Karena kita harus mencari
sisi yang tidak hanya menarik bagi kita tapi juga inspiring bagi orang
lain. Tapi mungkin saja, suatu saat nanti.

Harapan terhadap buku ini?

Saya ingin buku ini bisa memberikan kekuatan pada perempuan.

Jadi bagaimana menurut Teman Mustika? Apa mungkin seorang perempuan
harus mati agar dongeng perempuan lain mendapatkan kehidupan, seperti
yang ditulis Asma Nadia di buku Istana Kedua? Ya, yang pasti Teman
Mustika perlu membaca buku ini lebih dulu sebelum menjawab pertanyaan
itu...

[teks&foto: Martha]
Diposting pada: 2008-02-23 18:29:29

http://www.mustikaf m.com/v1/ closer.php? id=81
aeront wrote on Mar 5
Oleh : Helvy Tiana Rosa

Keluarga Samara. Menurut saya, Istana Kedua adalah novel terbaik Asma Nadia hingga saat ini. Awalnya novel ini merupakan tulisan bersambung di Majalah Ummi, namun ketika diterbitkan dalam bentuk buku, pengarangnya melakukan banyak revisi hingga novel ini terasa berisi dan kian menggigit. Saya berikan lima bintang untuk Istana Kedua. Mengapa?

istana-kedua.jpg1. Tema yang menarik dan “berani”. Novel tersebut berbicara mengenai poligami, sesuatu yang bisa jadi selalu hangat dibicarakan sampai kapan pun dalam kehidupan suami istri, dan dalam kehidupan bermasyarakat. Namun menariknya dalam buku ini Asma tak masuk pada wilayah pro kontra. Ia biarkan semua peristiwa dan tindakan yang dijalinnya dalam cerita meresap menjelma renungan bagi para pembacanya.2. Penokohan dengan karakter yang sangat kuat sehingga terasa betul bahwa semua tokoh yang diciptakan Asma, termasuk tokoh-tokoh utama (Pras, Arini, Mei Rose) memiliki nyawanya sendiri dan bergerak ke sana kemari tanpa bisa dikendalikan oleh pembaca. Tokoh-tokoh tersebut sangat khas dan jauh dari stereotip. Pembaca bahkan bisa dibuat simpati dengan tokoh antagonis Mei Rose. Pembangunan karakter disampaikan secara bertahap dan sangat halus hingga ketika tiba pada klimaks cerita, tokoh-tokoh tersebut terasa bulat dan utuh. Asma juga menciptakan tokoh cerita dalam cerita (berbingkai) yang ditulis tokoh Arini, yaitu Ratih. Kalau pembaca tak jeli, tokoh ini dikira sebagai perempuan biasa, teman Arini yang dikhianati suaminya. Padahal itu tokoh dalam novel yang ditulis Arini. Dalam “kerumitan” Asma membuat semua karakter mendapat ruangnya.

3. Teknik penceritaan yang berbeda dari kebanyakan novel yang ada. Asma menjalin ceritanyanya dengan menggunakan sudut pandang empat tokoh sekaligus yang dijalin lincah dan dibuat sengaja berlompatan. Semua bagai keeping puzzle yang harus diletakkan pembaca di ruang pikiran mereka sendiri. Susunan cerita yang dibangun secara acak, memaksa pembaca untuk terus berpikir dan merangkai sepanjang jalan cerita. Membuat cerita di dalam cerita, juga dilakukan Asma, bukan saja pada pemunculan tokoh Ratih dan kisahnya, namun juga secara cerdas mengaitkan semua cerita dengan dongeng-dongeng masa kecil para tokoh perempuannya.

4. Alur yang tidak linear, melompat-lompat dengan dinamis menjadi bagian dari teknik penulisan dan komposisi memikat yang dijalin oleh pengarangnya.

5. Pembaca juga akan disentakkan oleh banyaknya diksi yang indah dan tak biasa. Terasa betul Asma memikirkan diksi yang tepat untuk membangun semua unsur intrinsik yang terdapat dalam novel ini.

6. Pembaca tetap bisa mendapatkan bermacam hikmah tanpa merasa digurui sama sekali. Akhir cerita yang terbuka mengisyaratkan kerendahan hati sang penulis untuk menyerahkan semua pada tafsiran pembaca sesuai nurani dan wawasan mereka. .., sekaligus membuka peluang novel ini menjadi dwilogi, trilogi atau tetralogi.

Saya tidak akan terkejut kalau nanti novel ini mendapat banyak penghargaan. Selamat buat Asma! (www.keluarga-samara.com)


Sumber : http://helvytr.multiply.com/reviews/item/12/Istana_Kedua_Penerbit_Gramedia_2007_Asma_Nadia
Add a Comment
How would you rate this book? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.